Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Showing posts with label Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Jurnal. Show all posts

Tuesday, August 8, 2023

Melihat Mesin Pengolah Sabut Kelapa di Purwokerto

August 08, 2023 0

Pada tanggal 24 Juli 2023 lalu, untuk pertama kalinya saya memutuskan  pergi keluar kota menggunakan kereta malam dari Stasiun Pasar Senen Jakarta. Biasanya saya selalu berangkat pagi atau siang hari dari stasiun senen. Perjalanan malam kali ini menggunakan Kereta Api Serayu. Kota yang saya tuju adalah Purwokerto yang merupakan ibukota Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

Tujuan perjalanan saya ke kota pelajar tempat kelahiran Jendral besar Soedirman ini adalah untuk melihat dan survei mesin pengolah serabut kelapa. Nama pengerajinnya adalah Serabut Mas. Saya tertarik mencari mesin karena ingin membuka produksi pengolahan limbah serabut kelapa. Kebetulan di daerah saya tinggal belum ada yang mengolah serabut kelapa alias tepes ini. Tetangga saya yang punya usaha kelapa parut sampai kebingungan untuk membuang limbah sabut kelapa ini.

Ada tiga produk yang dihasilkan dari pengolahan sabut atau tepes kelapa, yaitu coco bristle, coco fiber, dan cocopeat. Cocobristle adalah sabut kelapa yang sudah terpisah dari fibernya. Bentuknya panjang, lebih halus dari fiber pada umumnya, dan kuat. Cocofiber merupakan hasil olahan sabut kelapa yang banyak digunakan untuk bahan kerajinan, seperti tali sabut kelapa, isian jok, keset, dan lain sebagainya. Selain untuk kerajinan, cocofiber juga digunakan sebagai media tanam pada pencangkokan. Cocopeat adalah material yang tidak berserat dan ringan yang menyatukan serat sabut dalam sabut kelapa, cocopeat secara luas digunakan sebagai media tanam organik. Cocopeat mempunyai kemampuan daya serap dan menyimpan air yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanah.

Di Purwokerto saya belajar menggunakan mesin pengolah serabut kelapa produksi mas Yayan dari Serabut Mas. Mesinnya digerakan oleh dinamo setengah PK dengan konsumsi listrik 350 watt. Belajar menggunakan mesin secara langsung, sensasinya berbeda dengan hanya melihat video tutorial di youtube. Di sini saya dapat cara menggunakan mesin dengan baik dan efektif.

Nah, dari perjalanan ini, saya juga dapat masukan bahwa cocofiber dapat digunakan dalam budidaya ikan sebagai tempat menaruh telur pada proses perkawinan indukan pengganti ijuk. Kebetulan kenal banyak pembudidaya ikan lele. Selain itu tentu dapat informasi lain yang berguna buat proses produksi sabut kelapa nantinya.

Setelah puas belajar menggunakan mesin pengolah sabut kelapa, saya pun pergi ke beberapa destinasi wisata yang ada di Purwokerto. Sambil menunggu kereta api Serayu menuju Pasar Senen yang berangkat jam 16.40 WIB. Ada dua titik, yaitu Menara Pandang Teratai dan makan di Madhang Maning Park Purwokerto.

Untuk video perjalanannya, bisa lihat fi video berikut ini.




Tuesday, July 11, 2023

Minyak Jelantah Jadi Tabungan Uang

July 11, 2023 0

Minggu lalu saya menjual minyak jelantah hasil pengumpulan dari nasabah bank sampah unit Gintung Mesra. Minyak jelantah ini dikumpulkan mulai dari hasil dapur rumah tangga, pedagang gorengan, dan catering. Minyak jelantah yang terkumpul akan kami jual untuk didaur ulang kembali.

Perlu teman-teman ketahui bahwa minyak jelantah memiliki potensi ekonomi yang cukup besar jika dikelola dengan benar. Minyak jelantah bisa diproses menjadi sabun, bahan bakar minyak, hingga biodiesel. Namun, minyak jelantah juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Minyak goreng bekas alias minyak jelantah merupakan limbah non-B3, namun tetap memiliki dampak terhadap lingkungan jika dibuang sembarangan. Dikutip dari situs berita merdeka.com ada 6 bahaya minyak jelantah Bagi Kesehatan dan Lingkungan

1. Penyakit Kolesterol Tinggi

Dampak kesehatan konsumsi minyak jelantah diantaranya menyebabkan penyakit degeneratif seperti kolesterol, kanker, dan penyakit jantung. Jelantah mengandung asam lemak jenuh tinggi akibat proses pemanasan yang dilaluinya. Jika dikonsumsi, akibatnya adalah penurunan HDL kolesterol serta peningkatan LDL dan total kolesterol.

2. Penyakit Jantung

Konsumsi minyak jelantah secara berlebihan bakal meningkatkan kolesterol dan pada gilirannya risiko penyempitan pembuluh darah. Kalau sudah begini, kesehatan jantung bisa terancam. Populernya makanan dengan kandungan lemak jenuh tinggi seperti gorengan yang diolah dengan jelantah menjadi salah satu penyebab tingginya kasus kematian karena penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah.

3. Kanker

Minyak jelantah yang dipakai berulang kali merupakan sumber radikal bebas. Radikal bebas tersebut bakal menyerang sel-sel sehat dan memicu pertumbuhan abnormal sel kanker. Penumpukan radikal bebas juga akan menyebabkan mutasi gen dan berisiko menjadi sel kanker. Karena kanker merupakan penyakit berat yang sulit disembuhkan, sebaiknya hindari konsumsi makanan yang diolah dengan minyak jelantah.

4. Pencemaran Air

Salah satu bahaya yang jelas dari pembuangan limbah minyak jelantah dengan tidak bijak adalah pencemaran air. Limbah cair ini bakal mengalir ke sungai dan berakhir di laut, menyebabkan pencemaran air yang lebih serius.

Minyak jelantah yang mengapung di permukaan bakal menghalangi sinar matahari, menyebabkan tumbuhan laut tidak bisa berfotosintesis. Kandungan oksigen terlarut di perairan pun jadi menurun. Pada gilirannya, kelangsungan hidup biota laut bisa terancam.

5. Penyumbatan Drainase

Limbah minyak jelantah yang dibuang sembarangan di saluran air tanpa dikelola terlebih dahulu akan menyebabkan penyumbatan pada saluran air atau drainase. Saluran air yang kotor dan tersumbat ini nantinya bisa menjadi tempat berkembang biak bakteri dan berisiko menimbulkan penyakit.

6. Pencemaran Tanah

Minyak jelantah yang dibuang ke parit atau tanah dapat terserap bumi. Minyak ini akan menggumpalkan dan menutup pori-pori tanah. Kalau sudah begini, tanah akan menjadi keras dan tidak bisa lagi mendukung aktivitas manusia. Pada gilirannya, pencemaran ini dapat menyebabkan banjir.



Saya lewat bank sampah gintung mesra menerima donasi maupun tabungan minyak jelantah. Kami menerima minyak jelantah dengan harga 5000 sampai 6000 per kilogram tergantung harga di pasaran. Jika teman-teman tertarik bisa menghubungi kami.


Monday, November 14, 2022

Melihat bunga bangkai mekar sempurna setelah 14 bulan di tanam

November 14, 2022 0

Bunga bangkai! Waktu yang lama untuk bisa mekar sempurna dan waktu yang singkat saat mekar membuat tanaman ini cukup langka. Atas dasar pemikiran tersebut saya membeli tanaman Amorphopallus Paeoniifolius atau familiar dengan sebutan suweg. Tanaman ini adalah tanaman yang masuk ke genus tanaman bunga bangkai, namun bukan yang dilindungi dan bibitnya mudah didapat. 


Dari berbagai literatur disebut kalau Amorphophallus paeoniifolius adalah tanaman anggota genus Amorphophallus dan masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan iles-iles (A. muelleri). Bunga tanaman ini adalah salah satu bunga paling bau di dunia. Bau busuk hanya bertahan beberapa jam setelah bunga mekar, tetapi membuat siapa pun enggan mendekatinya karena aromanya sangat mengganggu. Bau busuk tersebut membuat orang menjulukinya sebagai bunga bangkai.


Harapan saya adalah saat mekar akan mengundang banyak orang untuk berkunjung ke Taman Kupu-kupu Sukardi. Namun ditunggu tak kunjung berbunga juga. Setahun lebih ditunggu belum juga berbunga. Sampai di bulan 23 Oktober 2022 ada tunas yang mirip bunga muncul. 


Akhirnya penantian 14 belas bulan tersampaikan jua. Rasa antusias untuk pertama kalinya akan melihat bunga bangkai mekar dengan mata sendiri. Setiap hari saya membuat dokumentasi pertumbuhan bunga bangkai ini.


Setelah 10 hari menunggu, akhirnya bunga bangkai mekar sempurna. Baunya mirip bangkai tikus. Paling menyengat pas malam hari. Kayak berasap dan ada cairan di tongkol bunganya.


Sesuai harapan ada dua sekolah PAUD yang berkunjung melihat bunga bangkai ini. Selain tentunya belajar tentang metamorfosis kupu-kupu. 


Untuk dokumentasi pertumbuhan bunga bangkai yang saya tanam ini bisa lihat pada video berikut ini:





Monday, November 7, 2022

Taman Kupu-Kupu Sukardi menyabet Pemenang Tingkat Provinsi di 13th SATU Indonesia Awards 2022

November 07, 2022 0




PT. Astra Internasional Tbk di tahun 2022 kembali mempersembahkan 13th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2022 bagi generasi muda. SATU Indonesia Awards merupakan program apresiasi untuk anak bangsa yang memberi dampak dan manfaat bagi masyarakat dalam lima bidang yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi; serta satu kategori kelompok yang mewakili bidang tersebut.

Ahmad Yunus, Kordinator Taman Kupu-Kupu Sukardi, dengan program konservasi kupu-kupu  berhasil menyabet Pemenang Tingkat Provinsi di 13th SATU Indonesia Awards 2022 katagori Lingkungan. Dari Email yang diterima pada tanggal 2 November Panitia SATU Indonesia Awards 2022 memberitahukan bahwa saudara telah lolos menjadi pemenang tingkat provinsi SATU Indonesia Awards 2022. Selanjutnya, Anda akan menerima dana apresiasi dari ASTRA sebesar Rp5.000.000.

"Alhamdulillan senang dan bangga bisa meraih  penghargaan ini"

Menurut Yunus, Taman Kupu-Kupu Sukardi sudah didaftarkan ke program SATU Indonesia Awards sejak tahun 2021 lalu, namun mungkin karena mepet ke penutupan jadi belum sampai ke meja juri utama. Tahun ini kami dihubungi oleh panitia untuk langsung ke tahap selajutnya tanpa pemberkasan lagi. Sampailah ke hasil pemenang tingkat provinsi.

"Pencapaian ini akan memacu kami lebih baik lagi dalam mengelola taman koservasi ini da megenalkan ke masyarakat luas tentang pentingnya peran kupu-kupu bagi ekosistem alam. "


Untuk daftar lengkap pemenang tingkat provinsi 13th SATU Indonesia Awards 2022 dapat dilihat di  https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/penerima-apresiasi-tingkat-provinsi-2022.

Penghargaan ini melegkapi pencapaian pada Bulan Maret di mana Ahmad Yunus juga terpilih sebagai nominator Program #PejuangIklimInspirasiku yang diselenggarakan oleh Pejuangiklim.id bekerjasama dengan Tempo Institute dan Yayasan Madani Berkelanjutan.



Sunday, March 27, 2022

Ahmad Yunus, Edukasi Lingkungan dengan Taman Mini

March 27, 2022 0


Ahmad Yunus Sukardi adalah penulis dan blogger yang memiliki kepedulian pada lingkungan. Disela hobinya menulis dia juga punya aktivitas berkaitan lingkungan. Kebiasaan hidup dan pandangan terhadap alam diwujudkan dengan bersumbangsih pada lingkungan. Ia mendirikan taman kupu kupu tak jauh dari rumahnya. Taman sederhana di atas pekarangan itu ditanami aneka tumbuhan dan berbagai jenis bunga. Ditambah sedikit fasilitas bermain anak. Untuk menghias taman kecil itu ia memanfaatkan barang bekas.

Yunus memanfaatkannya taman tersebut untuk penangkaran kupu-kupu. Kupu-kupu selain hewan polinator atau membantu penyerbukan tanaman . "Kupu kupu juga memiliki fungsi bioindikator, yang bisa mengindikasikan tingkat pencemaran suatu lingkungan. Jika banyak ditemui kupu kupu warna hitam dan gelap, menandakan lingkungan itu banyak tercemar. Jika banyak kupu kupu yang berwarna putih atau warna terang, artinya lingkungan itu belum terlalu tercemar," jelasnya, lewat unggahan video di akun Instagram @ahmad_yunus_s,

Selain menjadi tempat berselfie ria,warga memanfaatkannya taman itu untuk edukasi. Taman Kupu Kupu Sukardi ini kerap menerima kunjungan siswa Paud, yang ingin belajar metamorfosis kupu kupu. Yunus biasanya menghadiahi tamu yang berkunjung dengan bibit tanaman.

Selain kupu kupu Yunus juga mengembangbiakan hewan yang bermanfaat untuk lingkungan, diantaranya lebah Klanceng juga berfungsi sebagai polinator penghasil madu.

Yunus juga mempelopori pendirian bank sampah, Gintung Mesra. Untuk mendorong masyarakat mengatasi persoalan sampah. Ia mendidik masyarakat untuk mengolah sampahnya dengan benar. Sekali kali Yunus menggelar pelatihan pengolahan sampah. Seperti praktek membuat ecobrick, untuk mengatasi sampah plastik sekali pakai.

Artikel ini merupakan bagian dari profil 10 Besar Pejuang Iklim Inspirasiku 2022. Sumber tulisan: https://inspirasiku.pejuangiklim.id/vote