Catatan Ahmad Yunus Sukardi

Blog untuk menampung catatan cerita, mimpi, dan semua hal yang ingin Ahmad Yunus bagikan lewat tulisan.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, October 31, 2021

Mitigasi Perubahan Iklim lewat Ecobrick

October 31, 2021 0


Saya hobi travelling seperti kebanyakan orang-orang, setiap kali travelling pasti menghasilkan sampah. Khususnya sampah plastik bekas kemasan makanan. Hal ini menyebabkan saya juga berkontribusi dalam penambahan sampah.
Sampah plastik bekas travelling



Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup, rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah di perkotaan pada tahun 1995 menghasilkan sampah 0,8 kg/hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang per hari adalah sebesar 2,1 kg.

Sektor limbah terutama, sampah memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dalam bentuk emisi metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) yang menyebabkan perubahan iklim. Apalagi Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) di Indonesia adalah lahan terbuka yang sampahnya diolah dengan cara dibakar dan diurug. Pembakaran sampah juga menghasilkan karbondioksida, ditambah lagi dengan emisi gas yang dihasilkan oleh transportasi yang membawa sampah ke tempat pembuangan tersebut.

Sampah plastik kemasan makanan juga sering kita temukan di perairan, baik di laut maupun di sungai. Menurut Forti et al. (2020) Sampah yang berada di perairan berasal pengelolaan sampah perkotaan yang tidak baik. Sampah pada perairan diprediksikan akan terus meningkat seiring peningkatan populasi dan peningkatan tingkat konsumsi. Sampah di perairan didominasi oleh sampah plastik (90%), di mana 62% dari sampah tersebut adalah kemasan makanan dan minuman.

Data dari Bappenas pada tahun 2019 menyebutkan jika Jumlah kebocoran sampah plastik menuju laut Indonesia diprediksi sekitar 1,29 juta ton/tahun. Sementara, tingkat kebocoran sampah plastik ke perairan sungai hingga laut diprediksi lebih dari 70 persen jumlah timbulan.

Wow bukan dampak dari sampah plastik kemasan makanan jika tidak ditangani dengan baik. Padahal produk-produk yang dijual  di supermarket sampai warung-warung hampir 90% sudah dikemas dalam sebuah bungkusan yang sebagian besarnya adalah kemasan plastik.

Ecobrick jadi solusi pengolahan sampah non organik

Saat ini saya selalu berupaya membawa sampah plastik bekas kemasan makanan yang saya hasilkan setiap kali pergi keluar rumah. Sampah-sampah plastik hasil jalan-jalan ini saya pilah mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak, untuk sampah kemasan yang tidak bisa didaur ulang akan disatukan dengan sampah plastik kemasan lainnya untuk kemudian diolah menjadi ecobrick. Saatnya Anak Muda Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Apa itu ecobrick.

Ecobrick berasal dari dua suku kata, yaitu “Eco” dan “brick” artinya bata ramah lingkungan. Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Ecobrick digunakan untuk membuat mebel modular, ruang kebun, dinding dan bahkan bangunan berskala penuh.

Ecobrick menurut ecobricks.org adalah botol plastik bekas yang penuh berisi segala jenis plastik bekas, bersih dan kering, mencapai kepadatan tertentu berfungsi sebagai balok bangunan yang dapat digunakan berulang-ulang. Ecobrick juga dapat dibuat dengan material yang tidak bisa terurai secara alami, yang akan mengeluarkan racun bagi lingkungan (Misalnya: Stereofom, kabel, baterai kecil, dll.).

Ecobrick merupakan pengolahan sampah dengan cara pemadatan, yaitu proses untuk mengurangi timbulan sampah dengan mengubah volume sampah itu sendiri. Ecobrick juga mampu memberikan kehidupan baru bagi limbah plastik. Tidak mencemari perairan atau berakhir di TPA, tapi dapat dimanfaatkan menjadi material bangunan dan furnitur.

Tidak semua jenis sampah dapat dimasukan ke botol dan menjadi ecobrik. Ada beberapa jenis sampah yang malah tidak boleh dijadikan ecobrick. Untuk jenis sampah yang bisa digunakan dan tidak bisa digunakan lihat gambar di bawah.


Bagaimana cara membuat ecobrick?


Membuat ecobrick sangat mudah, kita hanya butuh alat seperti gunting dan tongkat kayu. Sedangkan bahannya adalah botol bekas dan sampah non organik. 

1. Simpan, pisahkan, bersihkan, dan keringkan plastik
Ecobrick dibuat dari plastik yang bersih dan kering. Mulailah dengan memisahkan plastik dari bahan-bahan lainnya.

2. Masukan Sampah plastik ke dalam botol
Siapkan botol plastik 600 ml yang bersih dan kering. Masukkan plastik kresek terlebih dahulu untuk dasaran kemudian masukan potongan plastik dan sampah non organik lainnya.

3. Padatkan sampah
Pakailah alat bantu tongkat kayu untuk mendorong potongan plastik ke dalam botol hingga padat . Marimas Ecobrick harus padat , jika masih ada rongga udara maka harus dipadatkan lagi.

4. Timbang Ecobrick
Langkah terakhir timbang untuk memastikan berat Ecobricks sesuai stardart yaitu ±200 gram untuk botol 600 ml.


Manfaat ecobrick

Manfaat ecobrick menurut Maurilla Imron adalah sampah-sampah plastik akan tersimpan dan terjaga di dalam botol sehingga tidak perlu dibakar, menggunung, tertimbun dan lain-lain. Teknologi ecobrick memungkinkan kita untuk tidak menjadikan plastik di salah satu industrial recycle system, dengan begitu akan menjauhi biosfer dan menghemat energi.

Akhir kata, tidak semua sampah bisa didaur ulang. Khususnya plastik kemasan makanan yg dilapisi alumunium foil. Melalui paparan sinar matahari dan air, plastik terurai menjadi racun lingkungan dan mikroplastik. Mengemasnya ke dalam Ecobrick mencegah plastik meracuni biosfer.

Mengolah sampah menjadi ecobrick merupakan salah satu solusi pengendalian sampah plastik yang dapat dilakukan setiap individu. Saatnya Anak Muda Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim. 



Daftar Pustaka
Anonim. Panduan 10 Langkah Membuat Ecobrick. https://www.ecobricks.org/how/?lang=id.
Anonim. Sampah dan Perubahan Iklim. https://inswa.or.id/tahukah-kamu/ 
Yunus, Ahmad. Konsep sampah dan Hirarki Pengolahan Sampah. http://www.ahmadyunussukardi.my.id/2021/09/konsep-sampah-dan-hirarki-pengolahan.html



Friday, October 1, 2021

Ekonomi Sirkular Dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

October 01, 2021 0
Artikel ini merupakan tulisan ketiga resume kelas online Pengelolaan Sampah Berkelanjutan yang saya ikuti dengan penyelenggaranya adalah SDG Academy Indonesia. Tulisan pertama Konsep sampah dan Hirarki Pengolahan Sampah dan Aspek Finansial Pengelolaan Sampah.  Silahkan baca bagian sebelumnya untuk mendapatkan informasi pengolahan sampah.

Konsep Ekonomi Sirkular


Mindset dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan: “Sampah Adalah Sumber Daya”. Sampah tidak hanya barang-barang yang sudah tidak dapat digunakan tetapi dengan proses yang benar dapat menjadi barang baru. Proses pengolahan meningkatkan kembali nilai dari sampah juga mengurangi timbulan sampah. Sampah apabila dikelola dengan metode ini akan memberikan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang baik.

Ekonomi Sirkular adalah pendekatan penerapan sistem ekonomi melingkar dengan memanfaatkan sampah untuk digunakan sebagai bahan baku industri.

Pemikiran dalam Circular Economy

1. Cradle to Cradle

Konsep ini berfokus untuk mendesain produk secara efisien sehingga menghasilkan dampak positif serta mengurangi dampah negatif dari proses pembuatan hingga menjadi sampah nantinya.
Prinsip Dasar Cradle to Cradle
  • Tidak ada konsep sampah 
  • Menggunakan energi baru  dan terbarukan
  • Merespek alam seperti merespek manusia

2. Performance Economy. 

Konsep ini berfokus kepada pendekatan “closed loop” dalam proses produksi dengan empat tujuan utama:
  • Meningkatkan Jangka Waktu Produk
  • Produk Jangka Panjang
  • Rekondisi Aktivitas
  • Pencegah Sampah
Prinsip ini menekankan pada penjualan jasa dibandingkan produk.

3. Biomimicry (Terinspirasi oleh Alam)

Pendekatannya sebagai 'disiplin baru yang mempelajari ide-ide terbaik alam dan kemudian meniru desain dan proses ini untuk memecahkan masalah manusia'. Mempelajari daun untuk menciptakan sel surya yang lebih baik adalah contohnya.
Prinsip Dasar Biomimicry" 
  • Alam sebagai model: Mempelajari model alam dan meniru bentuk, proses, sistem, dan strategi ini untuk memecahkan masalah manusia.
  • Alam sebagai ukuran: Gunakan standar ekologi untuk menilai keberlanjutan inovasi manusia.
  • Alam sebagai mentor: Melihat dan menghargai alam bukan berdasarkan apa yang dapat kita ekstrak dari alam, tetapi apa yang dapat kita pelajari darinya.

4. Industrial Ecology

Ekologi industri adalah studi tentang material dan aliran energi melalui sistem industri. Berfokus pada koneksi antara operator dalam ekosistem industri.
Tujuan utama Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan proses “Closed Loop”di mana: 
  • Limbah berfungsi sebagai masukan, sehingga menghilangkan gagasan tentang produk sampingan yang tidak diinginkan.
  • Ekologi industri mengadopsi sudut pandang sistemik, merancang proses produksi sesuai dengan batasan ekologi lokal sambil melihat dampak globalnya sejak awal, dan berusaha membentuknya agar berjalan sedekat mungkin dengan sistem kehidupan.

5. Natural Capitalism

"Modal alam" mengacu pada persediaan aset alam dunia termasuk tanah, udara, air, dan semuamakhluk hidup. Pada konteks ekonomi global di mana kepentingan bisnis dan lingkungan tumpang tindih, mengakui adanya saling ketergantungan antara produksi dan penggunaan modal buatan manusia dan aliran modal alam
Prinsip Utama Natural Capitalism
  • Meningkatkan produktivitas sumber daya alam secara radikal - Melalui perubahan radikal pada desain, produksi, dan teknologi, sumber daya alam dapat bertahan lebih lama dari yang ada saat ini. Penghematan biaya, investasi modal, dan waktu yang dihasilkan akan membantu penerapan prinsip-prinsip lainnya.
  • Pergeseran ke model dan bahan produksi yang diilhami secara biologis - Kapitalisme alam berusaha untuk menghilangkan konsep limbah dengan memodelkan sistem produksi loop tertutup pada desain alam di mana setiap keluaran dikembalikan tanpa membahayakan ekosistem sebagai nutrisi, atau menjadi masukan untuk proses manufaktur lainnya.
  • Pindah ke model bisnis "layanan-dan-aliran" - Memberikan nilai sebagai aliran layanan yang berkelanjutan daripada model penjualan barang tradisional menyelaraskan kepentingan penyedia dan pelanggan dengan cara yang menghargai produktivitas sumber daya.
  • Investasi kembali dalam modal alam - Seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia dan tekanan terhadap modal alam, kebutuhan untuk memulihkan dan meregenerasi sumber daya alam semakin meningkat.

Manfaat Circular Economy 

Menurut Wilts, (2017) berikut adalah manfaat Circular Economy:

Manfaat Ketersediaan Sumber daya:

-  Meningkatkan ketahanan sumber daya 
- Menurunkan ketergantungan terhadap impor.

Manfaat Lingkungan:

- Pencegahan terhadap sampah
- Proteksi pada perubahan iklim

Manfaat Ekonomi: 

- Peluang bisnis 
- Meningkatkan  Inovasi

Manfaat Sosial: 

- Konsumsi berkelanjutan
- Peluang mendapat pekerjaan

Kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) 

Extended Producer Responsibility (EPR) merupakan pendekatan yang memberikan tanggung jawab kepada produsen baik secara finansial maupun fisik untuk melakukan pengolahan atau pembuangan (disposal) produk dari hasil konsumsi konsumen.

Manfaat dari EPR:

  1. Mengurangi jumlah timbulan sampah pada TPA
  2. Mengurangi beban finansial dan fisik dari pemerintah daerah untuk manajemen sampah
  3. EPR berfokus untuk clean production sehingga sampah yang dihasilkan tidak lebih  berbahaya dari sebelumnya
  4. Memberikan kompetisi kepada produsen untuk menghasilkan produk yang lebih tahan lama.

Ekonomi Sirkular Bank Sampah

Bank sampah muncul sebagai inisiatif masyarakat yang mempromosikan daur ulang dengan memberikan insentif uang kepada rumah tangga yang memisahkan dan menyimpan sampah anorganik (kertas, plastik, botol PET, logam, dll).

Sistem kerja bank sampah

Tantangan Bank Sampah

  1. Partisipasi rendah 
  2. Keuntungan sedikit 
  3. Kompetisi dengan pihak swasta 
  4. Tidak mudah untuk dilaksanakan

Wednesday, September 29, 2021

Aspek Finansial Pengelolaan Sampah

September 29, 2021 0
Aspek Finansial Pengelolaan Sampah merupakan tulisan kedua resume kelas online Pengelolaan Sampah Berkelanjutan yang saya ikuti dengan penyelenggaranya adalah SDG Academy Indonesia. Tulisan pertama Konsep sampah dan Hirarki Pengolahan Sampah. Silahkan baca bagian pertama sebelum lanjut kepembahasan kali ini untuk mendapatkan informasi pengolahan sampah. 
Bank sampah



Bagian Aspek Finansial Pengolahan Sampah berkelanjutan terbagi atas tiga topik, yaitu Aspek Biaya dalam Mengelola Sampah, Aspek Pendapatan dalam Pengelolaan Sampah, dan Alternatif Pembiayaan dalam Pengelolaan Sampah.

Biaya Pengelolaan Sampah


Biaya pengolahan sampah bisa dibagi menjadi dua tipe, yaitu:

  • Biaya investasi. Biaya ini meliputi: Persiapan Proyek, Biaya Tanah, dan Biaya Alat dan Konstruksi
  • Biaya operasional dan pemeliharaan. Biaya ini meliputi: Biaya Tenaga Kerja, Biaya Bahan Bakar, Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan.
Sumber Potensial untuk Biaya Investasi adalah sebagai berikut:
  • Pemerintah Pusat 
  • Pemerintah Daerah 
  • Donor
  • Sektor Privat 
  • Lembaga Internasional
Tantangan untuk Mendapatkan Pembiayaan Investasi
  1. Pemerintah daerah sebagai pemegang otoritas pengelolaan sampah tidak memiliki pendanaan yang cukup
  2. Banyak kota kesulitan untuk mendapatkan pinjaman untuk pengelolaan sampah
  3. Ketersediaan donor untuk permasalahan sampah hanya sedikit dan terbatas untuk negara berkembang
  4. Kondisi ekonomi membuat pembiayaan privat sulit untuk memberikan pembiayaan
Biaya Apabila Tidak Ada Pengelolaan Sampah
  1. Kesehatan Publik: Permasalahan pernafasan, keracunan sampah, penyakit seperti diare atau gastoenteritis.
  2. Polusi Lingkungan: Efek gas rumah kaca, kontaminasi air, udara dan tanah, dan kehilangan biodiversitas.
Perlu dipahami bahwa Biaya untuk melakukan pengelolaan sampah yang baik itu hanya 5-7 USD per kapita sementara untuk biaya apa bila tidak ada pengelolaan sampah yang baik bisa mencapai 20-50 USD per kapita.

Aspek Pendapatan dalam Pengelolaan Sampah

Pemulihan sumber daya merupakan aktivitas dari pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan pembiayaan untuk pengelola sampah yang berasal dari penjualan barang – barang daur ulang, kompos atau energi.
  • Daur Ulang. Pendapatan dari bahan daur ulang sangat bergantung kepada kualitas sampah yang diproses.
  • Kompos. Hasil kompos hanya dapat untuk mengembalikan maksimal 40% dari biaya yang di keluarkan.
  • Energi. Sampah menjadi energi memerlukan berbagai kebijakan untuk mendukungnya agar dapat menghasilkan.
Selain dari penjualan barang-barang hasil pengolahan sampah di atas,  pendapat juga diperoleh dari proses pengumpulan dan pembuangan. 
  • Pengumpulan. Sarana untuk mendapatkan pendapatan sebagai pemulihan biaya dari proses koleksi dimulai dari pajak properti, pembayaran utilitas, rate, atau program Pay as you throw. Sebagai catatan: Penting untuk operator untuk menentukan yang jumlah yang harus dibayar oleh rumah tangga agar dapat terjangkau.
  • Pembuangan. Salah satu sarana dari proses pembuangan adalah melalui pajak tanah. Penentuan pajak harus berdasarkan kemapuan masyarakat. Pengenaan pajak terhadap kategori sampah yang berbeda juga bisa jadi solusi. Selain itu, melalui Tipping fee (biaya layanan pengolahan sampah). Tipping fee dapat membuat tingkat daur ulang semakin tinggi dan WTE menjadi masif.
  • Lainnya. Pendapatan dapat melalui subsidi atau melalui pembiayaan.

Tantangan Industri Daur Ulang

Biaya Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Itu Mahal!. Salah satu operator sampah daur ulang untuk sampah plastik dan alumunium di California tutup sejak tahun 2019. Penyebab tutupnya adalah karena kenaikan biaya operasional dan harga barang-barang daur ulang yang turun. Dampak tutupnya fasilitas ini akan menyebabkan sampah akan memenuhi TPA dan juga meningkatkan kembali tingkat ekstraksi terhadap mineral.

Secara teori, meningkatnya daur ulang terutama terkait dengan barang mineral yang dibutuhkan seperti alumunium akan dapat mengurangi kebutuhan alumunium yang di ekstraksi dan menjamin keberadaan mineral secara jangka panjang.

Alternatif Pembiayaan dalam Pengelolaan Sampah

Berikut lima Alternatif Pembiayaan dalam Pengelolaan Sampah:

  • Public-Private Partnership (PPP)

PPP pada dasarnya adalah perjanjian jangka panjang antara badan pemerintah dan pihak swasta untuk menyediakan aset atau layanan publik, di mana pihak swasta diberikan serangkaian tanggung jawab, dan remunerasi didasarkan pada kinerja. Beberapa bentuk umum kemitraan publik-swasta adalah kontrak, konsesi, sewa, dan melalui persaingan terbuka.
Contoh Skema PPP di Indonesia adalah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant – Cilacap. Fasilitas RDF Plant Cilacap merupakan fasilitas yang didirikan menggantikan TPA. Setiap harinya dapat menghasilkan 50 ton RDF dari 120 ton sampah.
Fasilitas RDF ini dibangun sejak 2017 menggunakan metode sharing cost. Pemerintah Kabupaten Cilacap dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI). Sharing cost yang dimaksudkan adalah Pemerintah Cilacap berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan operasional sementara PT SBI terkait dengan peralatan dan tenaga kerja.

  • Result/Output Base

Pembiayaan berbasis hasil adalah suatu bentuk pembiayaan donor yang dapat dianggap sebagai pembiayaan pendapatan, karena tidak ada pembiayaan yang berpindah tangan sampai keluaran yang konkret tercapai terlebih dahulu. Mitra pembangunan internasional umumnya hanya membiayai biaya investasi, yang berarti kota harus mampu membayar  biaya operasional serta biaya modal jika terjadi pinjaman. Biaya operasi biasanya meningkat dengan investasi untuk peningkatan, perluasan dan modernisasi pengelolaan limbah, dan umumnya mencapai sekitar 70% dari total biaya.
Tujuan Model ini adalah untuk memperbaharui infrastruktur yang sudah ada dan membantu orang miskin kota melalui subsidi.

  • Obligasi Berwawasan Lingkungan (Green Bond)

Merupakan alat finansial untuk menarik minat investor untuk berinvestasi pada infrastruktur rendah karbon. Green Bond dapat dikeluarkan oleh Lembaga multinasional, institusi keuangan atau kota.
Contohnya Pada tahun 2018, PT SMI telah menerbitkan Obligasi Berwawasan Lingkungan dengan total fasilitas Rp3 triliun untuk sektor yang memiliki manfaat Lingkungan. 
Hingga tahun 2020, PT SMI telah memberikan pembiayaan dengan obligasi berwawasan lingkungan untuk 2 infrastruktur Energi Terbarukan dan 1 infrastruktur transportasi ramah lingkungan.

  • Climate atau Carbon Finance

Investasi dalam program mitigasi perubahan iklim dan merupakan kreasi dari produk finansial yang dapat di perjual belikan pada pasar karbon. Skema ini diperdagangkan di bawah Protokol Kyoto yang prosesnya penjualan, monitoring, verifikasi dan registrasi berada di bawah pimpinan UN.
Kredit karbon secara langsung terkait dengan pengurangan emisi gas rumah kaca benar-benar tercapai dan diverifikasi, ada insentif keuangan langsung bagi kota untuk beroperasi tempat pembuangan sampah sanitasi yang didanai donor mereka seperti yang dirancang.

  • Micro Finance

Merupakan pembiayaan skala kecil dengan memberikan jasa pinajaman untuk bisnis atauasuransi atau pembiayaan untuk rumah tangga yang tidak dapat mendapatlan akses menujuperbankan tradisional.
Tujuan Micro Finance untuk membantu usaha mikro dan kecil hingga UMKM untuk dapat berpartisipasi dalam proses pengumpulan sampah dan daur ulang agar dapat memberikanjasa yang lebih baik.
Kasus Micro Finance dalam Pengelolaan Sampah
Kerjasama antara Grameen Creative Lab  dengan The Alliance to End Plastic Waste  yang dinamakan Zero Plastic Waste City.
Zero Plastic Waste City bertujuan untuk  mengembangkan dan menyebarkan solusi  pengelolaan sampah di dua kota, dan  melibatkan masyarakat setempat untuk  mengambil kepemilikan atas sistem  pengelolaan sampah ini dan menuai  manfaatnya.
Program ini memanfaatkan pasar informal untuk menutup jalur pengumpulan dan pemilahan sampah,  sembari menyediakan pabrik pengolahan awal sampah dan solusi daur ulang / pengomposan untuk sampah yang dipisahkan.

Sunday, September 26, 2021

Konsep sampah dan Hirarki Pengolahan Sampah

September 26, 2021 0
Tumpukan sampah meluber di TPS Buaran Jati Tangerang


Sampah merupakan permasalahan yang cukup rumit di Indonesia. Banyaknya tumpukan sampah di tepi jalan merupakan pemandangan yang dapat ditemukan di beberapa kota besar di Indonesia. Selain itu sampah juga menyebabkan polusi lingkungan sekitar. Penanggulangan sampah berkelanjutan merupakan suatu keharusan agar sampah berkurang dan mengurangi polusi lingkungan.

Tulisan Berikut merupakan resume dari kelas online Pengelolaan Sampah Berkelanjutan yang saya ikuti dengan penyelenggaranya adalah SDG Academy Indonesia.

A. Konsep sampah

Sampah merupakan barang-barang yang sudah tidak diinginkan dan tidak digunakan lagi, atau barang-barang sisa dari sebuah aktivitas manusia. (World Bank, 2018)

Klasifikasi Sampah di Indonesia

Berdasarkan Undang-Undang No 18 Tahun 2008 & Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 sampah di Indonesia dibagi kedalam tiga kelas,  yaitu:

  • Sampah rumah tangga adalah sampah yang bersal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
  • Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari Kawasan komersial, Kawasan industri, Kawasan khusus, fasilitas sosial dan fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.
  • Sampah Spesifik adalah sampah yang secara sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus. Sampah Spesifik yang dimaksud adalah:

1. Sampah yang Mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

2. Sampah yang Mengandung Limbah B

3. Sampah yang Timbul Akibat Bencana

4. Puing Bongkaran Bangunan

5. Sampah yang Secara Teknologi Belum Dapat Diolah; dan/atau

6. Sampah yang Timbul Secara Tidak Periodik.

Komposisi Sampah Perkotaan Indonesia

Jenis sampah apa saja sih yang terdapat di perkotaan? Dapat lihat data  UNEP (2017) berikut: 

  1. Makanan dan Organik, 60% 
  2. Plastik, 14%
  3. Kertas, 9%
  4. Karet, 5.50%
  5. Besi, 4.30%
  6. Tekstile, 3.50%
  7. Lainnya, 2.40% 
  8. Kaca, 1.70%


Sampah Makanan di Indonesia

Sampah makanan di Indonesia merupakan penyumbang sampah terbesar dengan persentase 60%. Sampah makanan sendiri bisa dibedakan menjadi dua yaitu food loss dan food waste. 

Food loss timbul dari proses produksi dan pengolahan sebelum bahan makanan sampai didistribusi ritel. Sementara food waste adalah makanan yang hilang atau terbuang atau tidak layak makan pada tingkat ritel, jasa penyedia makanan, dan konsumen. Secara sederhana dapat disebut jika food loss adalah makanan yang terbuang sebelum diolah (masih bahan mentah),  sedangkan food waste adalah makanan yang terbuang setelah diolah (makanan jadi) . 

Economist Intelligence Unit memaparkan fakta tentang sampah makanan di Indonesia sebagai berikut: 

  • Sampah Makanan di Indonesia merupakan sampah yang paling dominan hingga mencapai 60% dari komposisi sampah.
  • Indonesia menempati urutan 2 sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar dengan estimasi 400 Kg/tahun/orang.
  • Proses distribusi makanan di Indonesia juga menghasilkan sampah yang tinggi.

Dampak buruk Sampah

Jumlah kebocoran sampah plastik menuju laut diprediksi sekitar 1,29 juta ton/tahun. Sementara, tingkat kebocoran sampah plastik ke perairan sungai hingga laut diprediksi lebih dari 70 persen jumlah timbulan. (Bappenas, 2019)

Dampak pengelolaan sampah yang tidak baik adalah sebagai berikut:

Lingkungan

  • Polusi air, udara, dan tanah 
  • Kelangsungan mahluk hidup terancam 

Ekonomi

  • Menurunkan harga tanah sekitar tempat sampah
  • Menghambat produktivitas 

Kesehatan 

  • Munculnya penyakit pernafasan hingga epidemi

Komunitas 

  • Kualitas hidup yang menurun


B. Hirarki Pengolahan Sampah

Hirarki Proses pengelolaan sampah dapat dibagi dalam beberapa tahapan. 

  1. Tahap pertama, Reduce yakni usaha mengurangi jumlah sampah. Contoh kegiatannya adalah berbelanja di swalayan dengan membawa tas belanja sendiri
  2. Kedua, Reuse yaitu konsep menggunakan barang berulang kali. Contoh menggunakan botol plastik bekas untuk menggantikan pot tanaman. 
  3. Ketiga, Recycle yakni sebuah ide untuk mengubah sampah menjadi material baru. Contohnya menggunakan sampah kertas untuk membuat kertas daur ulang baru.
  4. Keempat, Recovery yaitu konsep mengubah sampah menjadi energi yang dapat digunakan kembali.  Contohnya adalah pembuatan kompos atau PLTSa
  5. Disposal yakni barang yang tidak lagi digunakan dan dibuang.  Contohnya adalah sampah di TPA.

Rantai pengelolaan sampah

Rantai pengelolaan sampah berkelanjutan, dimulai dari proses munculnya sampah, pengumpulan, pengangkutan, pemindahan, tindakan, serta pemrosesan. Setiap negara memiliki prosedur tersendiri dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

1. Pemisahan Sampah

Pemisahan sampah adalah kunci agar pengelolaan sampah berjalan dengan baik. Pemilahan di Indonesia dibagi kedalam 5 kategori: 

  • sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun;
  • sampah yang mudah terurai; 
  • sampah yang dapat digunakan kembali; 
  • sampah yang dapat didaur ulang; dan 
  • sampah lainnya.

Pemisahan sampah juga berbeda di setiap negara. Contoh Jerman membagi menjadi 7 jenis, Korea Selatan menjadi 4 jenis dan Jepang menjadi 38 jenis. 

2. Pengumpulan Sampah

Pengumpulan sampah dilakukan agar tidak terjadi penumpukan sampah di tempat yang tidak seharusnya. Pengumpulan sampah merupakan kegiatan membawa sampah dari sumber sampah menuju tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (TPS 3R).

3. Pengangkutan

Kegiatan membawa sampah dari sumber atau TPS menuju tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) atau tempat pemrosesan akhir dengan menggunakan kendaaran bermotor yang didesain untuk mengangkut sampah.

4. Pengolahan Sampah

Pengolahan merupakan kegiatan untuk mengubah karakteristik, komposisi, dan/atau jumlah sampah.

Menurut Permen PUPR No.3 tahun 2013 tentang operasional pengelolaan sampah, pengolahan sampah meliputi: 

  1. Pemadatan. Proses untuk mengurangi timbulan sampah dengan mengubah volume sampah itu sendiri.
  2. Daur Ulang Kompos. Proses Kompos adalah proses untuk merubah sampah yang memiliki kandungan alam yang tinggi seperti sampah makanan, tanaman, atau agrikultur untuk dirubah menjadi pupuk untuk bercocok tanam. Keuntungan: Mengurangi volume sampah organik hingga 90%, Produk kompos dapat menghasilkan keuntungan. Kekurangan: Membutuhkan kontrol terkait input sampah dan pengelolaan limbah, Membutuhkan lahan yang besar dan bergantung pada iklim.
  3. Energi. Waste to Energy (Sampah Menjadi Energi) merupakan proses merubah sampah menjadi energi seperti listrik atau energi panas.

Dalam mengolah sampah ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: 

  • Karakteristik Sampah
  • Teknologi pengolahan yang ramah lingkungan
  • Keselamatan kerja
  • Kondisi sosial masyarakat

Kunci dalam memberikan Tindakan terhadap sampah adalah pemisahan sampah.

5. Pemrosesan Akhir

  • Metode Lahan Urug Terkendali. Metode ini merupakan metode menimbun sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi dampak lingkungannya.
  • Metode Lahan Urug Saniter. Metode ini merupakan metode dengan memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. Sehingga setiap hari akhir operasi sampah akan ditimbun dan dipadatkan sebelum ditimbun dengan tanah.



Saturday, November 28, 2020

Seandainya Saya Jadi Pemimpin, Wajib Bagi Siswa Tanam Pohon Kalau Mau Lulus

November 28, 2020 0

Seandainya saya menjadi pemimpin, ada satu kebijakan yang ingin saya golkan. Sebuah peraturan yang mewajibkan siswa sekolah menengah yang akan  lulus untuk menanam minimal satu bibit pohon sebagai syarat kelulusan. Serius, seandainya saya jadi pemimpin, wajib bagi siswa tanam pohon kalau mau lulus!. Gagasan ini saya ambil sebagai dampak dari perubahan iklim yang mengakibatkan  bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Gagasan untuk membuat peraturan Seperti di atas, tercetus pertama kali ketika saya terjuan menjadi relawan banjir bandang di Kabupaten Lebak. Saat itu saya melihat bagaimana luar biasanya bencana yang diakibatkan oleh kerusakan hutan. Banyak kampung yang hancur dan areal pertanian yang rusak parah akibat banjir bandang.

Areal Persawahan yang rusak akibat banjir bandang. Lokasi Kec. Sajira Kab. Lebak (Dokumentasi pribadi)


Perlu kita pahami bersama bahwa perubahan iklim mengakibatkan curah hujan dan peralihan musim yang tidak lagi bisa diprediksi. Banjir Bandang awal tahun 2020 adalah contohnya. Menurut analisis data BMKG, seperti yang dilansir kompas.com, banjir Bandang disebabkan oleh cuaca ekstrem yang lebih parah dibanding banjir pada 2015 dan 2017. Cuaca Ekstrem yang terjadi saat itu disebabkan oleh perubahan iklim.

Menanam kembali hutan-hutan yang sudah gundul dapat menjadi solusi mencegah banjir bandang dan longsor akibat perubahan iklim. Selain itu, menanam pohon juga dapat menampung air hujan. Sehingga ketersediaan air di hulu maupun sepanjang daerah aliran  sungai (DAS) dapat dijaga, khususnya saat kemarau panjang. 


Gagasan Peraturan Menanam Pohon 

Saya sudah membahas latar belakang atau alasan kenapa punya gagasan untuk melahirkan peraturan yang mewajibkan menanam pohon bagi siswa sekolah menengah yang mau lulus. Kali ini kita akan membedah ide besar dari gagasan ini.

Dipilihnya siswa sekolah menengah baik pertama ataupun atas, karena mereka sudah lebih paham tentang perubahan iklim dibandingkan dengan anak-anak sekolah dasar. Sehingga mereka diharapkan akan memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan. Gagasan kebijakan ini juga adalah untuk mendorong peran generasi muda dalam pelestarian lingkungan dan mencegah dampak buruk perubahan iklim.

Saya mengusulkan sistem Zonasi pada peraturan yang digagas. Zonasi penanaman pohon dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama adalah pegunungan dan hutan, Zona kedua adalah pesisir pantai, sedangkan zona ketiga adalah zona perkotaan. Kegiatan penanaman dan jenis tanaman bisa disesuaikan dengan zona dimana sekolah berada. Misalkan, untuk sekolah yang berada dekat dengan pesisir pantai para siswa diarahkan untuk menanam bakau, zona pekotaan dapat menanam di areal DAS atau trotoar jalan,  Zona pegunungan areal lahan kritis.

Jenis tanaman yang akan ditanam adalah tanaman keras. Untuk varietas tanaman sendiri dibebaskan sesuai zonasi. Tinggi minimal bibit pohon adalah 50 cm. Satu orang siswa wajib menanam satu pohon, yang pelaksanaannya diatur sekolah masing-masing sesuai arahan Dinas Lingkungan Hidup setempat.

Sebagai bentuk apresiasi telah ikut menanam pohon, siswa diberikan sertifikat sebagai syarat kelulusan sekolahnya.

Demikianlah gagasan saya Seandainya saya menjadi seorang pemimpin. Entah kapan tahu mimpi ini bisa diwujudkan menjadi sebuah peraturan yang mengikat. Akan tetapi meskipun Saat ini saya bukanlah seorang pemimpin, saya tetap merintis jalan untuk mengajak generasi muda menanam pohon. 

Bulan November tahun ini, untuk memperingati hari menanam pohon Indonesia yang jatuh pada tanggal 28 November, saya sudah menyiapkan bibit tanaman gratis. Kurang lebih 100 bibit tanaman sudah berhasil saya sediakan. 25 batang saya serahkan kepada karang taruna Desa Gintung sebagai peran  generasi muda mencegah perubahan iklim. Sisanya saya bagikan kepada pengunjung Taman kupu-kupu Sukardi. 


Terakhir sebagai penutup Tulisan ini saya teringat sebuah pesan,

"Jika panas mengganggu, tanamlah pohon. Jika air mengganggu, tanamlah pohon. Dan jika Anda menyukai kehidupan, tanamlah banyak pohon."