Saturday, September 5, 2020

#

SEKILAS TENTANG DONGENG



Dongeng. Bila mendengar kata itu mungkin yang ada dalam benak kita adalah kenangan masa kecil di saat malam sebelum tidur diceritakan kisah – kisah oleh orang tua. Atau ketika duduk di bangku sekolah, bapak dan ibu guru yang bercerita.

 

Orang tua zaman dulu biasa melakukan dongeng menjelang anak – anak berangkat tidur. Dongeng yang dibawakan bisa bermacam – macam, mulai dari cerita rakyat, dongeng tentang binatang, hingga dongeng tentang kehidupan sehari–hari yang dapat ditemui oleh anak.

 

Apakah anda punya kenangan yang membekas dengan dongeng? Saya masih bisa mengingat dongeng yang pernah diberikan oleh guru sekolah dasar saya di kelas enam. Tentang keluarganya dan tentang kisah hidupnya. Tapi apakah dongeng itu hanya kita temui di masa kecil? Tidak juga. Di bangku SMP sampai duduk di bangku kuliahan pun saya masih mendapatkan dongeng yang diceritakan oleh para guru atau para dosen saya. Mereka memang tidak menyebutnya sebagai dongeng. Tapi bukankah mendongeng itu sama juga dengan kegiatan bercerita?

 

Dongeng bisa diidentikan dengan kegiatan berbagi cerita untuk menciptakan pengalaman bersama. Baik itu cerita orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, ataupun pendongeng kepada pendengarnya.

Menurut pandangan Soekanto, dongeng juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata – kata. Kekuatan kata – kata inilah yang dipergunakan untuk mencapai tujuan bercerita.

 

Dongeng yang biasa kita kenal sebenarnya hanya sebagian kecil dari sebuah lingkup besar kebudayaan kolektif yang dalam Antropologi disebut sebagai foklor. Karena kita adalah bangsa Indonesia, kita mempunyai foklor Indonesia. Menurut James Danandjaja (1973) foklor Indonesia adalah sebagian dari kebuadayaan Indonesia yang tersebar dan diwariskan secara turun menurun secara tradisional melalui media lisan maupun contoh yang disertai dengan perbuatan, di antara anggota–anggota dari kelompok apa saja di Indonesia, dalam versi yang berbeda–beda, dalam bentuk lisan, setengah lisan, maupun bukan lisan.

Danandjaja kemudian membagi foklor ke dalam tiga katagori besar, yaitu:

1. Folklor Lisan

Yang termasuk folklore lisan antara lain adalah: bahasa rakyat, teka – teki rakyat, pribahasa, cerita rakyat, puisi rakyat, nyanyian rakyat, dsb.

2. Folklor Setengah Lisan

Yang termasuk folklore setengah lisan antara lain adalah: kepercayaan rakyat, permainan serta hiburan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat kebiasaan, upacara, pesta rakyat, dsb.

3. Folklor Bukan Lisan

Folklor jenis ini dapat dibagi dua ke dalam dua subbagian, yaitu:

  • Folklor Bukan Lisan Material

Yang termasuk folklor bukan lisan material adalah: arsitektur rakyat, seni kerajinan rakyat, pakaian serta perhiasan tubuh, dsb.

  • Folklor Bukan Lisan Non Material

Yang termasuk folklor bukan lisan non material adalah: bahasa isyarat dan music tradisional. Dongeng, legenda, dan mite masuk ke dalam jenis cerita rakyat.

 

Dongeng apa sih?

Kata pepatah sih tak kenal maka tak sayang. Ada baiknya kalau kita kenalan dulu dengan dongeng yuk! Menurut Danadjaja (1984), dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar – benar terjadi. Dan cerita ini tidak terikat pada waktu dan tempat.

 

Pada tahun 1910, ahli folklor dari Finlandia, Antti Aarne, menulis buku yang menguraikan jenis – jenis folklor. Karyanya itu kemudian diterjemahkan dan diperkaya oleh Smith Thompson dari Indiana University pada tahun 1928 dan tahun 1961.

Aarne membagi jenis dongeng menjadi empat jenis, yaitu:

1. Dongeng Binatang

Dalam doneng jenis ini yang menjadi tokoh dalam ceritanya adalah binatang. Cerita tentang si Kancil yang cerdik dan licik adalah contoh dongeng binatang paling terkenal di Indonesia.

2. Dongeng Biasa

Jenis dongeng ini adalah dongeng yang ditokohi manusia dengan suka–dukanya. Cinderella mungkin jenis paling terkenal dalam katagori ini. Beberapa dongeng Indonesia yang setipe dengan Cinderella adalah Ande – Ande Lumut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bawang Merah dan Bawang Putih, si Melati dan si Kecubung dari Jakarta, I Kesuna ian I Bawang dari Bali. Lalu ada Timun Emas, Batu Batungkup dan banyak lagi kisah sejenis lainnya.

3. Lelucon dan Anekdot

Dongeng jenis ini melimpah ruah jenisnya. Ada yang tentang agama, suku, seks, politik, orang sinting, dan sebagainya.

4. Dongeng Berumus

Dongeng jenis ini mempunyai tiga bentuk, yaitu; dongeng bertimbun banyak (berantai), dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak memiliki akhir.

 

Referensi:

 

James Danandjaja, (1973, Mei). Kertas Kerja Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia. Jakarta: Panitia Inventarisasi danDokumentasi Folklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)

Seokanto SA (1998). Seni Bercerita Islami. Depok: Bina Mitra Press


No comments:

Post a Comment

Follow by Email