Saturday, September 12, 2020

#

12 MANFAAT DONGENG

”Cerita sangat bertenaga dan penelitiantelah membuktikan bahwa cerita berperan amat signifikan, bukan hanya dalam perkembangan bahasa anak, tetapi juga perkembangan emosional dan psikologisnya.” (Mary Walsh)

Zaman terus berubah. Kemajuan teknologi sangat deras. Lalu muncul dalam benak kita. Di zaman modern ini masih perlukah kita melakukan kegiatan yang sifatnya kuno, seperti mendongeng?



Ternyata, di saat perkembangan teknologi audio-visual kian maju dan maraknya ’dongeng – dongeng’ modern di layar televisi, serta kian membanjirnya buku–buku cerita impor, kegiatan mendongeng bukan tidak diperlukan lagi. Anak–anak tetap membutuhkan dongeng dalam hidup mereka.

Anggapan anggapan miring bahwa mendongeng atau membacakan cerita anak bagi kebanyakan orang tua atau pendidik merupakan pekerjaan buang – buang waktu dan membosankan harus disingkirkan. Karena kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa dengan mendongeng atau membacakan cerita anak akan mendapatkan banyak manfaat, baik bagi anak maupun bagi pendongengnya sendiri.\

Tidak percaya, kita buktikan! Saya akan memberikan fakta dan data dari manfaat dongeng yang akan membuka lebar cakrawala pandangan anda. Berikut ini adalah manfaat dari dongeng:

 

1. Menumbuhkan Kebersamaan dengan Anak

Pada usia pertumbuhan, anak selain memerlukan kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, dan sarana lahiriah lainnya, anak juga memerlukan kebutuhan perkembangan jiwa, termasuk rasa aman dan kebersamaan dengan orang tua. Dan di sekolah pun, anak – anak emerlukan perhatian dan hubungan yang baik dengan gurunya.

Kegiatan mendongeng menjadikan hubungan anak dan orang tua atau pendidik semakin dekat. Baik secara fisik maupun psikologis. Anak akan merasa diperhatikan, merasakan kenyamanan, dan merasa dicintai. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian  ang menunjukkan bahwa orang tua yang suka mendongeng menjelang tidur, cenderung lebih akrab dengan anak–anak dibandingkan dengan yang tidak melakukan aktivitas mendongeng.

Menurut Supriyanto (2002), setidaknya ada tiga alasan mengapa mendongeng dapat menumbuhkan kebersamaan dengan anak: Pertama. Dengan mendongeng anak akan ikut menyimak sehingga terjadi kontak mata antara pendongeng dengan anak. Kedua, Adanya kontak mata juga akan diikuti dengan kontak fisik antara pendongeng dengan anak. Ketiga, Setelah terjadi kontak mata dan sentuhan fisik, maka proses lain yang akan terjadi adalah kontak pembicaraan.

Manakala anak merespon isi cerita, misalnya dengan cara menyakan atau berkomentar atas cerita itu. Maka kontak mata, sentuhan, dan pembicaraan akan terjalin. Selain itu, kegiatan mendongeng juga dapat dijadikan sebagai sumber umpan balik dari anak. Orang tua atau pendidik dapat mengenal lebih dekat aspirasi, kepekaan perasaan, ketajaman intuisi, kedalam jiwa, bahkan kearifan sosial dan keluasan wawasan hidup anak.

 

2. Melatih Tingkat Emosi Anak

Melalui dongeng, orang tua atau pendidik sebagai pendongeng dapat melatih tingkat emosi anak. Menurut Supriyanto (2002), anak memerlukan pengalaman batin untuk memperkaya aneka emosinya yang salah satunya melalui dongeng.

Supriyanto memaparkan lebih jauh bahwa, kebanyakan anak yang mendengarkan dongeng dengan baik, menunjukkan reaksi emosional. Seperti ingin bertindak sesuai dengan konflik tokoh yang didengarnya. Tingkat emosi anak dalam menyimak dongeng dapat juga ditunjukkan dengan gerak tangan, mimik bibir, dan mimik muka. Bahkan tidak jarang anak – anak langsung melontarkan kata – kata sebagai reaksi emosinya menanggapi konflik yang terjadi dalam dongeng.

Selain itu, ternyata EQ (emotional quotient) anak akan bekerja dengan baik bila anak menemui ilmu – ilmu baru, kemudian mereka akan mengaitkannya dengan pengalamannya sendiri. Inilah inti dari pembelajaran EQ. Tanpa disuruh anak akan membandingkan tokoh dalam dongeng dengan dirinya sendiri, sehingga dongeng bisa menjadi cermin untuk anak.

Bukankah dongeng yang berkesan adalah dongeng yang banyak kaitan dan berhubungan dengan pengalaman batin anak?

 

3. Mencerdaskan Spiritual Quotient Anak

Menanamkan akidah Islam dalam dada anak – anak, lalu membiasakan mereka untuk beribadah tanpa ada rasa paksaan, dan menjadikan anak berakhlak mulia bukanlah hal gampang. Apalagi di masa sekarang. Dan ternyata kegiatan mendongeng bisa jadi solusi alternatif untuk masalah itu.

Al Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, ternyata di dalamnya juga menggunakan metode bercerita yang tidak hanya membuat kita, para orang dewasa, dan anak – anak berpikir, tetapi juga merupakan nikmat peneguh dan penentram iman.

”Dan semua dari rasul – rasul yang kami ceritakan kepadamu ialah kisah – kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan peringatan bagi orang – orang yang beriman.” (QS.11: 120).

Lalu dalam ayat lain Allah SWT berfirman,

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang – orang yang belum mengetahu.” (QS. 12:3).

Maka saat kita mendongeng, unsur akidah tidak boleh ditinggalkan. Mendongeng yang juga sebagai salah satu nikmat dari Allah yang mempertemukan antara pendongeng dengan yang didongenginya dalam suasana silaturahmi dan kasih sayang, mampu menyemaikan nilai – nilai Islam dengan aktivitas yang menyenangkan.

Dengan demikian, membuat kita tidak perlu memberikan nasihat terlalu banyak pada anak. Dalam dongeng kita bisa memberikan gambaran kekuasaan dan kebesaran Allah, sehingga lewat dongeng anak – anak dapat mengenal Tuhannya. Kita juga bias menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah saw dan juga kisah para Nabi dan Rasul utusan Allah.

 

4. Mengembangkan Daya Imajinasi Anak

Imajinasi lebih kuat daripada pengetahuan; Impian lebih kuat daripada fakta. Itu adalah kata - kata terkenal dari Robert Fulghum. Fulghum ingin menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya menghadirkan dunia imajinasi yang sehat bagi anak-anak. Apalagi di saat sekarang, di mana dunia imajinasi anak semakin mengalami polusi. Imajinasi anak dicengkram kuku tajam kemajuan teknologi audio-visual. Di sinilah peran dongeng tak tergantikanoleh teknologi. Teknologi tidak mampu menciptakan hubungan dialogis. Dan gambar - gambar yang ready made (sudah jadi) di televisi, video, dan komik menjadikan anak - anak pasif. Karena anak-anak tidak diberikan kesempatan berkomentar dan berimajinasi bebas.

Dongeng merupakan sarana ideal untuk mengembangkan daya imajinasi anak Melalui dongeng, anak dapat diajak mengembangkan daya imajinasinya yang kaya raya dan tanpa terjajah. Misalnya, membayangkan gajah bisa terbang, Kancil yang cerdik, atau Bidadari.

Seperti yang diungkapkan oleh Kak Seto, bahwa dalam dongeng, imajinasi anak terkontrol, dia pun bisa menyampaikan ide atau gagasan dalam memecahkan masalah. Dengan demikian lahirlah ide - ide orisinal dari anak dalam suasana yang penuh kasih sayang.

 

5. Meningkatkan Daya Ingat Anak

Ada uraian menarik dari Nobuo Masataka, seorang peneliti anak – anak dari Jepang, ia mengatakan bahwa anak – anak di bawah usia tiga tahun pada umunya belum dapat mengembangkan secara penuh kemampuannya untuk memanipulasi bahasa, sementara kata – kata diasumsikan memegang peranan sangat penting dalam penyimpanan informasi pengalaman – pengalaman individu. Anak – anak pada usianya yang sangat muda itu harus memiliki kemapuan untuk “bercerita” pada saat mereka ingin mengingat segala sesuatu yang mereka ingin dengar atau mereka lihat. Seorang anak yang mendengarkan ibunya berkata,”Hari ini kita akan pergi ke kebun bintang, bukan?” anak akan mencoba menirukannya, lalu terbata–bata ia akan mencoba “bercerita” tentang kata – kata yang baru dipelajarinya dengan cara serupa. Dengan cara itulah pengalaman tersebut akan terekan dalam memorinya.

Ketika anak – anak telah dapat mengikuti alur kisah, telah dapat membuat sistematika, dan menghubungkan apa yang telah dilihat dan didengarnya, maka pada saat itulah ia telah dapat menyimpan informasi untuk pertama kalinya.

Lebih lanjut Nobuo mengatakan bahwa, kunci pengembangan memori anak–anak adalah dengan mendorong mereka untuk menyusun sebuah kisah dengan merangkai sejumlah terbatas kata – kata yang mereka miliki. Peran terpenting orang dewasa dalam hal ini adalah berbicara tentang berbagai hal berbeda kepada anak–anak itu; sebuah tugas sederhana dan biasa.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Nobuo menunjukkan bahwa membaca buku cerita bergambar merupakan cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan “bercerita” antara anak dan orang dewasa.

 

6. Memberikan Kesenangan di masa Kecil Anak

Salah satu tujuan dongeng adalah memberikan enjoyment (kesenangan) bagi anak di masa kecilnya. Sebagai pengisi waktu senggang dongeng merupakan hiburan, yang bukan saja menciptakan suasana santai bagi anak, melainkan juga memberikan kesenangan bagi si anak, yang sama nilainya dengan kenikmatan waktu bermain.

Perhatikanlah kebahagiaan yang terpancar dari anak ketika mereka didongengi, bagaimana mereka menjadi bagian dari pendongengnya, bagaimana mereka dipeluk dalam cerita, dan bagaimana mereka menjadi hangat bersama pendongengnya, apakah itu orang tuanya, kakaknya, guru, atau orang dewasa lainnya. Karena pada dasarnya anak-anak menyukai dongeng.

 

7. Menanamkan Nilai – Nilai Kehidupan pada Anak Tanpa Menggurui

Tak dapat disangkal, dongeng adalah sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak tanpa menggurui. Dongeng yang berkesan akan tetap tersimpan dalam memori anak.

Dengan dongeng, kita bisa mengajari anak nilai–nilai kehidupan dan ketuhanan dengan cara yang menyenangkan. Tanpa disadari oleh anak, kita telah mengajarkan beribu, bahkan berjutakisah hikmah yang akan menjadi bekal kehidupan mereka.

Dongeng sebagai karya sastra juga mencerminkan jati diri bangsa. salah satu unsur penting dari jati diri bangsa itu adalah nilai – nilai budaya. Nilai – nilai budaya yang dapat kita semai antara lain, suka menolong, bersyukur, bekerja keras, kebijaksanaan, musyawarah, kewaspadaan, gotong royong, kesetiaan dan kepatuhan, tidak iri hati, kejujuran, keadilan, keberanian, kasih sayang, dan masih banyak lagi nilai - nilai budaya yang dapat kita semai pada anak melalui dongeng.

 

8. Mempersiapkan Apresiasi Sastra

Menurut Taufiq Ismail, cerita anak - anak, seperti dongeng dan hikayat, merupakan saripati pengalaman batin bangsa. Di dalam cerita itu sesunggguhnya terekam berbagai aspek dari perjalanan hidup suatu bangsa. Di sana dituturkan suka duka, pencapaian dan kegagalan, keberanian dan kepengecutan, kejujuran dan pengkhianatan, dan catatan sejarah yang dilalui bangsa itu bisa ditemukan dalam bentuk yang indah serta menyentuh perasaan.

Wimanjaya K. Liotohe (1991), menuliskan bahwa salah satu manfaat dongeng adalah sampai kepada kehalusan rasa terhadap seni sastra dan bahan bacaan yang baik dapat dibina dalam diri seorang anak dengan cara banyak membaca cerita anak - anak.

 

9. Mengembangkan Daya pikir Anak

Banyak sekali manfaat dongeng. Percaya atau tidak, salah satunya adalah mengembangkan daya pikir anak. Mengutip hasil penelitian tentang pengaruh dongeng terhadap intelegensi anak, Psikolog Cici Kaloh mengatakan, bahwa intelegensi anak – anak yang kurang didongengi ternyata lebih rendah dibandingkan dengan anak - anak yang lebih banyak didongengi oleh orang tuanya.

Masih menurut Cici, semakin banyak rangsangan yang diterima seorang anak, semakin banyak analisis yang bisa mereka lakukan. Perkembangan daya pikir, menurut Cici, sangat dipengaruhi oleh rangsangan lingkungan, yang salah satunya adalah lewat pemberian dongeng.

Prof. Riris menguatkan pendapat di atas, menurutnya, karena untuk anak, dongeng menawarkan kesempatan menginterpretasi dan mengenali kehidupan di luar pengalaman mereka.

 

10.Menumbuhkan Minat Baca pada Anak

Menurut Suroso (2007), orang yang tidak memiliki minat baca dapat diubah menjadi peminat baca jika kita mampu mengkondisikan orang tersebut menyukai bacaan, dimotivasi dengan bertahap dengan menyenangi bacaanbacaan ringan menuju bacaan yang lebih berat. Salah satu solusinya adalah dongeng.

Dengan dongeng anak - anak akan terangsang untuk mengetahui dari mana sumber dongeng tersebut. Kemudian anak akan mencari dan menemukan bahan lebih jauh serta membaca lebih banyak. Pendongeng memang tidak pernah bawa - bawa buku saat mendongeng. Akan tetapi alangkah lebih baiknya kalau si pendongeng menunjukkan buku yang dipakai sebagai sumber dongengnya. Dengan menunjukkan buku tersebut, anak bias melihat sumber imajinasi pendongeng. Sehingga anak tahu ke mana mereka harus mencari inspirasi.

Seorang pakar di bidang penumbuhan minat baca, Mary Leonhardt, mengatakan bahwa membacakan dongeng dari buku adalah latihan yang baik bagi anak agar ia suka membaca. Bagi anak yang belum bisa membaca, kegiatan mendongeng merupakan asaran ideal untuk merangsang minat baca. Jika akan sudah mampu untuk membaca, mereka tidak akan tergantung kepada orang tuanya untuk mendapatkan dongeng.

 

11.Meningkatkan Perkembangan Bahasa Anak

Tahun 2004 ketika indeks kelulusan anak SMA dinaikkan, banyak siswa SMA yang tidak lulus. UNESCO membuat riset, ternyata keterbacaan anak Indonesia hanya 0,9%. Artinya kalau mereka membaca 100 kata, hanya 9 kata yang mereka kuasai.

Jauh sebelumnya pada tahun 1990, temuan Indra Ardiana menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah belum dapat berbahasa tulis dengan baik. Semua itu berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Menurut Sumarti M Thohir, direktur Pustaka Hati Center, mengatakan bahwa belajar berbahasa bukan hanya membaca, tapi mulai dari menyimak, berbicara, menulis, dan terakhir membaca.

Dongeng mampu meningkatkan perkembangan bahasa anak. Dengan dongeng anak diajak untuk menyimak apa yang diceritakan. Dongeng juga memberikan kesempatan dialogis pada anak untuk menyempaikan gagasannya atau menanggapi cerita.

Sedangkan Jim Trelease menyebutkan manfaat dongeng diantaranya adalah mengembangkan kosa kata, memperkenalkan susunan dan nuasa bahasa. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan buku cerita akan terbiasa pula mendengar bahasa baku, meskipun mereka belum bersekolah.

 

12.Menumbuhkan Rasa Humor pada Anak

Semua anak menyukai humor. Humor dalam  dongeng sekaligus improvisasi yang menyenangkan bagi mereka. Banyak ide humor yang bisa disisipkan ke dalam cerita. Dengan demikian rasa humor akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri anak.

 

Referensi

Afra, Afifah (2007). How To Be A Smart Writer. Solo: Indiva Media Kreasi

Annida. (2004). Buku Sakti Menulis Fiksi. Jakarta: Pustaka Annida

Danandjaja, James (1973, Mei). Kertas Kerja Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia. Jakarta: Panitia Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)

Iper, Dunis, Halimah Jumiati, dan Dagai L. Limin (1998). Legenda dan Dongeng dalam Sastra Dayak Ngaju. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Jennings, Paul (2006). Agar Anak Tertular 'Virus' membaca. Bandung: Mizan Learning Center

Liotohe, Wimanjaya K. (1991). Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak – Anak. Jakarta: Balai Pustaka

Nur’aini, Farida. (2007). Ma, Dongengin Aku Yuk!. Solo: Indiva Media Kreasi

Ratnawati, Sinta (ed) (2002). ‘Sekolah’ Alternatif Untuk Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Sarumpaet, Riris K Toha. (2003, September). Cerita, Anak, Kita, dan Ke mana kita? Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap FIB UI. Depok: FIB UI

Septianingsih, Lustantini, Lukman Hakim, dan Nurweni Saptawuryandari. (1998). Memahami Cerita Anak – Anak: Studi Kasus Majalah Bobo, Ananda, dan Amanah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Seokanto SA (1998). Seni Bercerita Islami. Depok: Bina Mitra Press

Suroso (2007). Panduan Menulis Artikel dan Jurnal. Yogyakarta: Pararaton Publishing

Widiastuti, Maria (2002). (Skripsi). Analisis Fungsi Dongeng Rakyat dan Cerita Khayal Modern Sebagai Alat Pendidikan: Suatu Penelitian Awal Berdasarkan pada Dongeng Binatang Modern dan Dongeng Grimm Bersaudara. Depok: FIB UI

Media Massa

Masataka, Nobou (Desember 2002) Majalah Matabaca Vol. 1 No. 5 Edisi Desember 2002.

Supriyanto (2002, Agustus). Membina Kebersamaan Melalui Cerita Anak. Warta, hal 21 – 24

Syahrezade, Ryan (2002, Agustus). Teknik Bercerita untuk Anak. Warta, hal 19 – 20

 

Internet

Armando, Nina M. Membacakan Buku Dongeng: Bangsaku.com

Yudisia,Sinta. 2009. Sumber Cerita Fiksi. http://sintayudisia.wordpress.com/2009/01/31/sumber-cerita-fiksi

No comments:

Post a Comment

Follow by Email